SUMBERMEDIA | JAKARTA– Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM kembali memanas. Anggota Komisi XIII DPR RI, Mafirion, mendesak aparat penegak hukum untuk mengungkap dalang utama di balik serangan terhadap Andrie Yunus.

Desakan ini mencuat setelah Pusat Polisi Militer TNI mengungkap bahwa empat pelaku merupakan oknum dari BAIS TNI.

Mafirion mengapresiasi langkah TNI yang terbuka mengungkap keterlibatan anggotanya. Namun, ia menegaskan bahwa proses hukum tidak boleh berhenti pada pelaku di lapangan saja.

“Penegakan hukum harus menyentuh aktor intelektual. Tanpa itu, keadilan hanya menyentuh permukaan,” tegasnya.

Politisi ini menilai keterlibatan oknum intelijen negara dalam kekerasan terhadap aktivis sebagai sinyal bahaya bagi demokrasi.

Menurutnya, ada kemungkinan tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya sistematis untuk membungkam suara kritis dan kerja-kerja advokasi HAM.

“Kalau benar ada motif intimidasi terstruktur, ini ancaman serius bagi kebebasan sipil,” ujarnya.

Mafirion meminta aparat mengusut tuntas seluruh aspek kasus, mulai dari pelaku, perintah, hingga motif di balik aksi tersebut.

Ia juga menegaskan pentingnya transparansi agar publik tidak kehilangan kepercayaan terhadap proses hukum.

Selain itu, ia mendorong agar para pelaku dijatuhi hukuman maksimal sebagai bentuk efek jera dan peringatan keras terhadap praktik kekerasan serupa.

“Negara harus berani. Telusuri siapa yang memerintah, membiayai, dan diuntungkan,” katanya.

Kasus ini kini menjadi sorotan luas. Mafirion mengingatkan, jika dalang utama tidak terungkap, publik berhak mempertanyakan komitmen negara dalam melindungi warganya.